RSS
Gambar

Cucu, kini sudah 3 tahun usianya .


img_5692img_5693

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Oktober 2016 in Uncategorized

 

Nengok Cucu Ke Fiji


FullSizeRender

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Januari 2015 in Uncategorized

 
Gambar

Angela cucuku yang pandai


Angela cucuku yang pandai

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Maret 2014 in Uncategorized

 

Cucuku sudah 4 bulan


IMG_20140301_0022275

Namanya Angela, nama yg manis sekali semanis orangnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Maret 2014 in Uncategorized

 

Hidup bisa dimulai pada usia 65 tahun, itu semua di tangan Anda!


Banyak orang tua merasa tidak bahagia, karena setelah usia 60 tahun seolah-olah merasakan kesehatan dan keamanan jiwanya mulai berkurang, itulah pendapat mereka pada umumnya. Tapi sebenarnya tidak perlu demikian, jika saja kita memahami prinsip-prinsip dasar kehidupan dan mengikuti beberapa penelitian tentang kesehatan yang sudah dilakukan. Berikut adalah sepuluh langkah untuk untuk menghadapai usia lanjut, yang membuat hidup setelah pensiun menyenangkan, menikmati hari tua dengan cara bijaksana dan cerdas.

  1. Tidak pernah mengatakan bahwa saya tua : Ada tiga kategori usia yaitu kronologis, biologis, dan psikologis. Yang pertama dihitung berdasarkan tanggal lahir kita, yang kedua ditentukan oleh kondisi kesehatan dan yang ketiga adalah kata hati, seberapa tua Anda merasa. Sementara kita tidak memiliki kontrol atas kategori yang pertama, namun kategori kedua kita dapat menjaga kesehatan kita dengan diet yang baik, olahraga dan sikap ceria. Sedangkan dengan bersikap positif dan berpikir optimis bisa membuat kita mengendalikan kategori ketiga.
  2. Kesehatan adalah kekayaan : Jika Anda benar-benar mencintai anak-anak Anda dan keluarga, merawat diri sendiri dan kesehatan harus menjadi prioritas Anda. Dengan demikian, Anda tidak akan menjadi beban bagi mereka. Memiliki kesehatan tahunan dengan check-up dan minum obat yang diresepkan secara teratur bila diperlukan. Untuk program kesehatan dapat mengambil asuransi kesehatan.
  3. Uang memang penting : Uang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup, menjaga kesehatan yang baik dan mendapatkan rasa hormat keluarga dan juga untuk keamanan. Jangan menghabiskan uang yang tidak penting, bahkan untuk anak-anak Anda sekalipun. Sadarilah bahwa Anda telah lama mengasuh mereka, bersama sejak kecil, sekarang saatnya Anda menikmati kehidupan yang harmonis dengan pasangan Anda. Jika anak-anak Anda sukses dan mereka mengurus Anda, itu adalah suatu berkah, tapi jangan pernah mengharap pembarian dari mereka.
  4. Relaksasi dan rekreasi : Menjalankan ibadah dengan benar, tidur cukup, mendengar musik dan tawa canda adalah cara relek dan rekreasi yang sangat baik, caranya dengan memiliki iman kepada Allah, belajar untuk tidur dengan baik, mencintai musik yang bagus dan melihat sisi lucu dari kehidupan.
  5. Waktu sangat berharga : Hal ini hampir seperti memegang tali kekang kuda. Ketika mereka berada di tangan Anda, Anda dapat mengendalikan mereka. Bayangkan bahwa setiap hari Anda dilahirkan kembali. Kemarin adalah cek yang dibatalkan. Besok adalah surat perjanjian. Hari ini adalah uang tunai yang penggunaannya menguntungkan. Hidup untuk saat ini.
  6. Perubahan adalah satu-satunya hal yang tetap : Kita harus menerima perubahan itu dan tidak perlu dihindari. Satu-satunya cara agar dapat mengikuti perubahan maka ibarat sebuah tarian kita harus ikut menari. Perubahan telah membawa banyak hal yang menyenangkan. Kita harus senang bahwa anak-anak kita telah sukses.
  7. Hindari sifat Egois  : Kita semua pada dasarnya egois. Apapun yang kita lakukan, kita selalu mengharapkan sesuatu sebagai balasannya. Kita harus berterima kasih kepada mereka yang telah membantu kita. Padahal kepuasan batin dan kebahagiaan yang seharusnya diperoleh adalah dengan berbuat baik kepada orang lain, tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
  8. Melupakan dan memaafkan :  Jangan suka membicarakan kesalahan orang lain. Kasihkan pipi yang lain ketika pipi kita yang satu ditampar orang. Demi kesehatan kita sendiri dan kebahagiaan, mari kita memaafkan dan melupakan kesalahan mereka. Jika tidak, kita hanya akan meningkatkan pikiran penat kita.
  9. Segala sesuatu memiliki alasan : Terimalah kehidupan ini apa adanya. Nikmati sesuatu yang anda miliki dengan senang hati dan biarkan orang lain menikmati pula apa yang mereka miliki dan mereka sukai. Semua orang pada dasarnya unik dan membenarkan apa yang mereka lakukan dengan caranya sendiri.
  10. Mengatasi rasa takut akan kematian. Kita semua tahu bahwa suatu hari kita harus meninggalkan dunia ini. Masihkah kita takut mati? Kita berpikir bahwa pasangan dan anak-anak kita tidak akan mampu menahan kepergian kita. Meskipun mereka mungkin akan memdapat kesedihan untuk beberapa waktu ketika kita tinggalkan. Dengan berjalannya waktu kehidupan merekapun akan berjalan seperti biasanya.

 

Regardless How Far The Journey Is Or How Capable We Are, We Do Our Best

To Reach Our Goal. This Is Perseverance At Its Best …   Anonymous

Yesterday is history, tomorrow is a mystery, today is a gift
Got it?

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 September 2013 in Ngudoroso

 

JANGAN MENUNGGU


  • Jangan menunggu BAHAGIA baru TERSENYUM, tapi TERSENYUMLAH, maka kamu kian BAHAGIA.
  • Jangan menunggu KAYA baru BERSEDEKAH, tapi BERSEDEKAHLAH, maka kamu semakin KAYA.
  • Jangan menunggu TERMOTIVASI baru BERGERAK, tapi BERGERAKLAH, maka kamu akan TERMOTIVASI.
  • Jangan menunggu DIPEDULIKAN orang baru kamu PEDULI, tapi PEDULILAH dengan orang lain! Maka kamu akan DIPEDULIKAN.
  • Jangan menunggu orang MEMAHAMI kamu baru kamu MEMAHAMI dia, taÞi PAHAMILAH orang itu, maka orang itu PAHAM dengan kamu.
  • Jangan menunggu TERINSPIRASI baru MENULIS tapi MENULISLAH, maka INSPIRASI akan hadir dalam TULISANMU.
  • Jangan menunggu PROYEK baru BEKERJA, tapi BEKERJALAH, maka PROYEK akan menunggumu.
  • Jangan menunggu DICINTAI baru MENCINTAI, tapi belajarlah MENCINTAI, maka kamu akan DICINTAI.
  • Jangan menunggu banyak UANG baru HIDUP TENANG, tapi HIDUPLAH dengan TENANG. Percayalah, bukan sekadar UANG yang datang tapi juga REZEKI yang lainnya.
  • Jangan menunggu CONTOH baru BERGERAK MENGIKUTI, tapi BERGERAKLAH maka kamu akan menjadi CONTOH YANG DIIKUTI.
  • Jangan menunggu SUKSES baru BERSYUKUR, tapi BERSYUKURLAH, maka bertambah KESUKSESANMU.
  • Jangan menunggu BISA baru MELAKUKAN, tapi LAKUKANLAH! Kamu pasti BISA !

Tulisan dari rekan Setiajit di millis PMTNT 77 79

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Agustus 2013 in Ngudoroso

 

Kisah Sedekah yang Menyentuh Hati.


Kisah di bawah ini adalah kisah yang didapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana . Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus.

Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu.Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.

Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter. Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba-tiba saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-tamu lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya. Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.” Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca-kaca dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.”

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.” Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu. Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.

Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-anakku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar-benar bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami.

Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.” Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-lambaikkan tangannya kearah kami.

Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar-benar ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali! Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan.

Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya .”Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.”

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.” Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA! Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang-orang terdekat anda. Disini ada ‘malaikat’ yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Juni 2013 in Ngudoroso